Lomba Blog HUT Bank Mandiri


http://www.bankmandiri.co.id/

Inovasi KERAK (Kerudung Aksara) Jogja Sebagai Kerudung Mandiri Asli Indonesia dan Melestarikan Aksara Jawa

Mayoritas penduduk di Indonesia memeluk agama Islam. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk muslim di Indonesia sebesar 207 176 162  jiwa yang terdiri dari 104 195 783 laki-laki dan 102 980 379 perempuan. Tingginya jumlah penduduk muslim di Indonesia telah mempengaruhi kultur masyarakat dalam penggunaan kerudung. Menurut ajaran Islam, seorang wanita muslim diwajibkan untuk menutupi aurat rambut. Kerudung dalam bahasa arab khimar merupakan kain penutup aurat (rambut) yang menjulur sampai dada atau  menutupi dada. Penggunaan kerudung disayriatkan bagi setiap mukminat dan muslimat yang sudah akil baliq. Menurut Tatty, dkk (2008) terdapat tujuh alasan seorang muslimah wajib menggunakan kerudung yaitu tunduk pada perintah Allah SWT, menutupi aurat, keamanan dan kehormatan, pembeda atau identitas diri, melindungi dari sinar ultraviolet dan melindungi dari perbuatan maksiat. Menurut Departemen Kesehatan Australia, pakaian yang menutup kulit  seperti kerudung dapat melindungi sinar ultra violet yang mengancam pada pukul 09.00-16.00.
Besarnya jumlah pemeluk Islam di Indonesia berpengaruh pada kultur masyarakatnya, terutama pada kaum perempuan muslimah yang semakin banyak memakai kerudung. Selain sebagai alat untuk menutupi aurat rambut, penggunaan kerudung juga digunakan sebagai fashion dan media sosial. Bertambahnya penduduk muslim di dunia membuat jenis dan motif kerudung semakin beragam. Menurut Uminaufal (2011) kerudung diklasifikasikan menjadi dua yaitu kerudung instan seperti kerudung instan kaos, rajut, satin, lycra, spandex dan kerudung non instan seperti kerudung segitiga, kotak hingga bentuk selendang atau shawl.  Tetapi, dari berbagai macam motif dan bahan kerudung masih ada kerudung yang bukan berasal dari buatan Indonesia. Biasanya kerudung berasal dari India, China, atau Turki. Padahal bila seluruh kerudung merupakan buatan asli Indonesia, maka akan membuat Indonesia lebih mandiri dan menambah lapangan kerja di Indonesia karena semakin meningkatnya jumlah penduduk Islam dan semakin bertambahnya pengguna kerudung di Indonesia.
 Oleh karena itu, penulis memiliki gagasan untuk berinovasi membuat kerudung yang mencirikkan khas asli Indonesia yaitu KERAK (Kerudung Aksara). Aksara Jawa dipilih sebaga motif kerudung karena aksara jawa mulai tergerus oleh modernisasi zaman. Masyarakat Indonesia khususnya anak muda saat ini lebih memilih mempelajari aksara luar negeri seperti Jepang dan Korea yang menurut mereka jauh lebih modern. Gejala pudarnya kemampuan dalam berbahasa Jawa ini terjadi di semua tingkat pendidikan dan sekolah, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Menurut Ponirin, guru Bahasa Jawa SD Negeri Jetisharjo, Kota Yogyakarta, (Kompas.com, 2009), lima tahun terakhir, nilai rata- rata untuk bahasa Jawa enam koma, sedangkan bahasa Inggris tujuh, bahkan delapan. Padahal aksara jawa merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan. Padahal menurut Hans Miller H di Apa Kabar Indonesia, aksara daerah membuat kaya bahasa di Indonesia (Tv One, 8 September 2012). 
Pihak pemerintah juga telah menggencarkan agar aksara Jawa tetap lestari  seperti menjadikan bahasa Jawa sebagai pelajaran muatan lokal di beberapa daerah, menyelenggarakan lomba aksara jawa, dan sebagainya tetapi perkembangan penggunaan aksara Jawa masih rendah, terbukti masih banyak siswa yang buta aksara jawa. Tujuan penggunaan kota Jogja pada nama Kerak Jogja dipilih untuk membawa nama Yogyakarta ke seluruh Indonesia atau pun luar negeri. Sedangkan keunggulan dan keunikan yang dimiliki oleh Kerak Jogja dibandingkan dengan kerudung lainnya yaitu dari sisi desain yang menarik, bercorak khas, dan bernuansa lokal, yang dapat digunakan sebagai salah satu cara dalam memperkenalkan aksara Jawa kepada masyarakat luas.sampai dunia Internasional. Ciri khas lain dari produk Kerak Jogja adalah tulisan aksara Jawa yang tergambar dalam kerudung dapat berupa pepatah Jawa seperti paribasan, bebasan dan saloka serta sekar atau lagu Jawa. Hal tersebut bertujuan sebagai media pembelajaran dan memberi pengetahuan pada masyarakat luas mengenai pelajaran yang ada di Jawa. Alat yang dibutuhkan dalam Kerak Jogja adalah alat pencetak motif, mesin jahit, gunting, setrika, peralatan gambar. Sedangkan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan  Kerak Jogja adalah kain, benang, cat, kertas karton, merk dan aksesoris.
 Secara umum, langkah-langkah dalam pembuatan produk kerak Jogja adalah pertama persiapan bahan-bahan  seperti kain kerudung dan cat. Tahap selanjutnya dilanjutkan dengan pembuatan desain dan pola Kerak Jogja berupa tulisan aksara Jawa tak beraturan ataupun aksara Jawa beraturan yang memiliki makna seperti pepatah dan lagu Jawa. Setelah itu, kain kerudung dicetak dengan motif yang telah disediakan. Selanjutnya, dilakukan finishing dengan menjemur kain kerudung yang telah dicetak dan memberi aksesoris tambahan pada kerudung. Adapun analisis pasar dari Kerak Jogja sebagai berikut :
a.       Strength (Kekuatan)
Beberapa kekuatan dari inovasi Kerak Jogja, diantaranya:
1)      Pasar kerudung masih besar dan luas.
2)      Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melestarikan budaya.
3)      Motifnya yang beragam dan memiliki desain yang unik
4)      Fleksibelitas desain dan jenis produk kerak Jogja dapa dilakukan inovasi dengan menyesuaikan kebutuhan pasar.
5)      Sebagai kerudung yang mencirikhaskan Indonesia.
b.      Weakness (Kelemahan)
Kelemahan yang dimiliki wirausaha Kerak Jogja yaitu tata cara penulisan aksara Jawa yang harus memperhatikan tebal tipis dari aksara. Cara untuk mengatasinya yaitu pekerja harus paham mengenai tata cara penulisan aksara Jawa.
c.       Opportunity  (Peluang)
Wirausaha Kerak Jogja memiliki potensi pasar kerudung yang cukup besar yaitu dalam negeri ataupun luar negri karena semakin meningkatnya penduduk muslim di dunia yang menggunakan kerudung.
 d.  Threat(Ancaman)
Kerak Jogja merupakan produk kerudung yang masih baru di pasaran, di mana di pasaran telah banyak dijual produk kerudung dengan berbagai motif. Produsen mampu menarik minat konsumen agar ancaman dalam wirausaha Kerak Jogja yaitu terkait dengan respon pasar dapat teratasi.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Kerak Jogja merupakan inovasi kerudung asli Indonesia yang dapat dijadikan kerudung berciri khas Indonesia dan  membuat masyarakat mendapat lapangan kerja baru. Sehingga diharapkan masyrakat lebih mandiri dalam memproduksi barang, bukan hanya sekedar menjadi konsumen dan Kerak dapat membawa nama Indonesia ke dunia internasional. Motif pada kerudung tidak hanya berbentuk bunga atau abstrak, tapi dengan bentuk aksara Jawa maka akan mengnalkan  aksara Jawa di seuruh kawasan termauk negara yang berdominan beragama Islam. Sehingga dengan adanya inovasi Kerak Jogja, masyarakat lebih menyukai produk Indonesia. 

Daftar Pustaka
BPS. 2010. Jenis kelamin Penduduk. http://sp2010.bps.go.id/. Diunduh tanggal 30 agustus 2012.

Elmir, Tatty, dkk. 2008. Ragam Gaya Kerudung. Jakarta: Gramedia.

Kompas.com. 2009. Motivasi Memakai Bahasa Jawa Makin Tiada
Program Pelestarian Harus Berjangka Panjang dan Disiapkan Serius. http://otomotif.kompas.com/read/2009/04/02/01330946/direktori.html. Diunduh tanggal 30 Agustus 2012.

Muharto, TS. Sam. 2008. Trampil Bahasa Jawa Kangge Kelas V SD/MI. Solo: Nataatmaja.

Uminaufal. 2011. Apa jenis kerudung favoritmu?. http://uminaufal.wordpress.com/2011/11/15/apa-jenis-kerudung-favoritmu/. Diunduh tanggal 31 Agustus 2012.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lomba Blog Speedy Monitoring