REFLEKSI FILSAFAT MATEMATIKA 2
"Membangun Dunia dengan Ada
dan Mungkin Ada"
Terinspirasi
pada Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika Pak Marsigit,
Rabu,
29 Oktober 2014 pukul 09.00-10.40 WIB di DO1 204
Oleh :
Gamarina Isti
Ratnasari/11313244002/Pendidikan Matematika 2011/gamarina.blogspot.com
Objek
dari filsafat adalah ada dan mungkin ada. Mengeksplor dari yang ada dan mungkin
ada berdasarkan sifatnya. Terdapat dua sifat dari ada dan yang mungkin ada
yaitu intensif dan ekstensif. Dalam intensif ada kualitas 1, 2, 3… dst.
Sedangkan dari segi ekstensif dari harga, bahan, struktur, dll. Sifat yang ada
dan mungkin ada dapat dibedakan jadi tetap/permenides dan berubah/heraklitos. Contoh
sesuatu yang tetap dalam diri kita adalah jumlah mata, jumlah hidung, jmlah
telinga , dll. Sedangkan sesuatu yang berubah dalam diri kita adalah pikiran,
berat badan, tinggi badan, dll. Sifat yang tetap berada di dalam pikiran
sedangkan sifat yang berubah berada di luar pikiran. Tetap merupakan monoisme
sedangkan yang berubah termasuk pluralisme. Apa yang ada dalam pikiran
merupakan idealisme, tokohnya adalah Plato. Sedangkan apa yang ada di luar
pikiran merupakan relisme, tokohnya adalah Aristoteles.
Abad
12-13 M merupakan abad Dominasi Gereja. Maksudnya, semua kebenaran harus berdasarkan
gereja. Salah satu kebenaran absolut yang tidak boleh disalahkan adalah
Geosentris artinya bumi merupakan pusat tata surya sedangkan matahari, bulan
dan planet mengelilngi dunia. Apabila
kebenaran ini disanggah maka tokoh tersebut akan di bunuh. Sehingga pada suatu
hari tokoh Copernicus, menyampaikan teorinya Heolisentris yaitu matahari yang
merupakan pusat dari tata surya, sedangakna bumi, bulan, dan planet
mengelilingi matahari. Selanjutnya terdapat tokoh Galileo Galelei yang disebut
jaman modern yang memunculkan pemikiran Rasionalisme dan Empirisme.
Rasionalisme maksudnya tidaklah akan ada ilmu jika kita tidak berpikir dan bersifat
ideal, tokohnya adalah R. Deskrates sedangkan Empirisme maksudnya tidaklah akan
ada ilmu jika kita tidak memilki pengalaman dan bersifat real, tokohnya David
Hume. Matematika murni hanya benar ketika masih ada dalam pikran tetapi ketika
dituangkan dalam tulisan secara filsafat salah.
Sehingga munculah Imanuel Kant yang
mendamaikan rasionalisme dan empirisme. Beliau mengatakan bahwa ilmu merupakan gabungan
antara pengalaman dan berpikir. Apabila hanya berpikir terancam kosong. Sesuatu
yang ada dalam pikiran bersifat koherensi, tantologi, konsistensi. Sedangkan
yang berada di luar pikiran bersifat kontradiksi, dinamik, dan korespondensi. Selian
itu beliau mengatakan bahwa yang ada dalam pikiran bersifat analitik (konsistensi
ide dalam pikiran) dan apriori (mampu memikirkan sebelum terjadi) sedangkan di
luar pikiran bersifat sintetik (hubungan subjek predikat, di mana predikat
terdapat dalam subjeknya), dan aposterori (baru berpikir setelah terjadi).
Contoh apriori adalah mengerjakan blog walau belum bertemu Dosen. Contoh
Aposteriori kucing menangkap tikus setelah meilhat tikus.
Analitik
yang merupakan konsistensi ide dalam pikiran tidak bisa disandingkan dengan
aposteriori yang baru berpikir setelah terjadi yang merupakan wujud dari
matematika formal. Pada identitas contohnya teorema 1 sama dengan teorema 2, A
sama dengan A. Sehingga analitik tidak akan bertemu dengan aposteriori.
Sebenar-benarnya ilmu menurut Imanuel Kant bekerja dipikirkan, berpikir untuk
kerja dengan sifat sintetik apriori.
Selanjutnya
muncul abad penolakan filsafat dan metafisik dengan tokoh Auguste Comte. Beliau
memiliki teori bahwa "Apa guna filsafat bila tidak membuahkan hasil? Buat
apa berdoa?" Beliau juga berpendapat bahwa spiritual menghambat
modernitas, tdak tepat dengan masyarakat yang adil dan makmur. Beliau
menempatkan spiritual terbahwah, dilanjutkan dengan filsafat, dan paling atas positif.
Positivisme Auguste Comte menjelma menjadi dunia kontemporer yaitu archaic, tribal, tradisional, feodal, modern,
pos modern, pos pos modern. Oleh karena
itu apabila kita terombang-ambing dengan arus pos modern maka akan terpengaruh
dengan kapitalis, hedonist, prafmatismaterialis. Sehingga jika ingin menengok dunia tengoklah pikiran dan bekerja
dipikirkan, berpikir untuk kerja.
Komentar
Posting Komentar